SD KATOLIK SANG TIMUR SUMENEP

SD KATOLIK SANG TIMUR SUMENEP

KASIH, PEDULI, CERDAS, TRANSFORMATIF
Jl. Slamet Riyadi No. 31 Pabian, Sumenep Madura
BERITA

Menghitung Jarak dan Rasa Cemas: Jeritan Hati Seorang Guru Swasta Jika Pertalite Naik Oleh: Moh Yani (Guru SDK Sang Timur Sumenep)

23/Jun/2026
Menghitung Jarak dan Rasa Cemas: Jeritan Hati Seorang Guru Swasta Jika Pertalite Naik Oleh: Moh Yani (Guru SDK Sang Timur Sumenep)Menghitung Jarak dan Rasa Cemas: Jeritan Hati Seorang Guru Swasta Jika Pertalite Naik
Oleh: Moh Yani (Guru SDK Sang Timur Sumenep)

Setiap pagi, sebelum matahari sepenuhnya menyapa Kabupaten Sumenep, saya sudah harus bersiap. Di depan saya, membentang aspal sejauh kurang lebih 30 kilometer yang memisahkan rumah dengan tempat saya mengabdi, SDK Sang Timur Sumenep. Sebagai seorang guru swasta, perjalanan ini bukan sekadar rutinitas mencari nafkah, melainkan sebuah panggilan jiwa.

Namun akhir-akhir ini, ada satu bayang-bayang yang membuat laju sepeda motor saya terasa lebih berat: kabar tentang kenaikan harga BBM jenis Pertamax.

Bagi sebagian orang, kenaikan seribu atau dua ribu rupiah mungkin terdengar sepele. Namun bagi kami yang mengandalkan gaji guru swasta dengan jarak tempuh harian mencapai 60 km pulang-pergi, angka tersebut adalah sebuah guncangan besar dalam anggaran dapur.

Saat mendengar isu Pertamax naik, ( saya berharap Pertalite tidak ikut naik), pikiran saya langsung melayang ke rumah. Saya mulai menghitung-hitung matematika dapur yang kian rumit.

Roti Gembong Menul Istri: Setiap kali hari gajian tiba, ada ritual kecil yang selalu membuat istri saya tersenyum bahagia. Menenteng pulang Roti Gembong Menul kesukaannya seharga Rp17.000. Sederhana, tapi itu cara saya merayakan keringat sebulan bersamanya. Jika bensin naik, apakah kebahagiaan kecil ini harus dipangkas?

Nasi Geprek Hamka: Anak sulung saya, Hamka, sangat menyukai nasi geprek seharga Rp10.000 yang biasa saya belikan. Uang sepuluh ribu itu kini terancam tergeser masuk ke dalam tangki bensin.

Susu dan Kebutuhan Si Kecil: Di luar itu semua, ada amanah yang lebih besar. Kami baru saja dikaruniai anak kedua yang saat ini masih berumur 5,5 bulan. Kebutuhannya tentu sedang banyak-banyaknya dan tidak bisa ditunda.

Jujur, sebagai warga negara, saya merasa waswas dengan arah bangsa ini. Ketika kebijakan demi kebijakan terasa kian menjepit masyarakat kecil yang berjuang di garda depan pendidikan, rasanya seperti berjalan di atas tali tipis.

Keresahan itu manusiawi. Rasa khawatir itu nyata. Namun, di tengah gemuruh rasa waswas terhadap kebijakan negeri ini, saya memilih untuk tidak tenggelam dalam keputusasaan.

Sebagai seorang hamba, saya meyakini satu hal yang mutlak: Pemerintah boleh saja mengubah harga bensin, tetapi mereka tidak akan pernah bisa menukar atau mengurangi rezeki yang telah digariskan oleh Allah SWT.

Saya kuat karena saya tahu, Sang Maha Pengatur Rezeki tidak pernah tidur. Jarak 30 kilometer yang saya tempuh setiap hari untuk mendidik anak bangsa di SDK Sang Timur adalah ikhtiar yang bernilai ibadah.

Biarlah harga bensin melambung, biarlah tantangan hidup kian menggunung. Selama niat di dada adalah untuk menafkahi keluarga kecil kami secara halal, saya percaya Allah akan selalu mencukupkan—termasuk untuk seporsi nasi geprek Hamka dan seruas roti gembong menul untuk istri tercinta. Keresahan ini ada, tapi iman saya jauh lebih besar dari rasa takut itu.
 kembali